Maulid Nabi Dan Polemiknya

Posted by Admin On May - 7 - 2009

Entah mengapa masih ada sebagian yg begitu alergi dengan perayaan Maulid Nabi, karena mereka menganggap bahwa hal tersebut adalah bid'ah dan mereka mengambil satu-satunya dalil bahwa semua bid'ah adalah sesat dan dinerakalah tempatnya, walaupun banyak ulama' ahlussunnah yg menerangkan ada bid'ah hasanah dan ada bid'ah dholalah tetapi mereka tetap tidak mau menerimanya, intinya antara ulama yg membagi bid'ah menjadi dua hasanah dan dholalah memahami hadits "semua bid'ah adalah sesat" dengan methode Al-ammul mahsus, yaitu dalil umum tetapi ada yg dikecualikan, dan begitu banyak dalil serupa dalam al-qur'an dah hadits. ...

Kumpulan Dokumentasi Infomajelis.co.cc

Posted by Admin On May - 7 - 2009

Inilah kumpulan dokumentasi yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Infomajelis.co.cc. Foto - foto ini ada yang diambil langsung oleh Tim dan ada juga di dapat dari email dan dirangkum dalam datu kesatuan. Semoga kumpulan foto-foto ini bisa berguna untuk mereka yang memang memerlukannya untuk tambahan koleksi foto mereka. ...

E-Book Islami GRATISAN

Posted by Admin On May - 7 - 2009

Tersedia bermacam-macam E-Book Islami disini. Kami menyediakan kumpulan E-Book tersebut dalam rangka untuk menyebarluaskan syiar dan demi terciptanya semangat membaca bagi semua kalangan terutama kalangan Muda, agar selalu menyempatkan diri untuk membaca tanpa harus dipusingkan oleh masalah biaya. Dapatkan E-Book islami di sini dengan cuma-cuma. GRATIS..TIS..TIS . ...

Terima Kasih kepada para Donatur yang selalu memberikan dana untuk kelangsungan Info-Majelis, Semua pendanaan akan digunakan dengan sewajarnya dan dengan seperlunya dan untuk pembiayaan blog ini. Terima kasih pula tertuju untuk para "clickers" yang selalu memperhatikan blog ini, semoga tercapai segala cita dan harapan kita bersama.
Ingin ikut berpartisipasi membiayai blog ini dan menjadi "clickers"..? Silahkan klik salah satu program dibawah ini. Karena cukup hanya dengan cara tersebut, secara tidak langsung anda ikut membiayai blog ini. Semua program dibawah ini adalah program GRATIS yang dapat anda ikuti
Bagjadotkom
adsense
zidu
Join FileFactory Today!
Adsense

As - Syeikh Abu Bakar Bin Salim

Diposkan oleh Admin On 5:19 PM 1 komentar



CO.CC:Free Domain




Ketika kau datangi ‘Inat, tanahnya pun berdendang Dari permukaannya yang indah terpancarlah makrifat Dahimu kau letakkan ke tanah menghadap kiblat Puji syukur bagi yang membuatmu mencium tanah liatnya Kota yang di dalamnya diletakkan kesempurnaan Kota yang mendapat karunia besar dari warganya Dengan khidmat, masuklah sang Syeikh merendahkan diri Duhai, kota itu telah terpenuhi harapannya. Akhlak dan kemuliaannya.

Syair Muhammad bin Ali bin Ja’far Al-Katsiry


Demikian untaian syair yang disusun oleh Muhammad bin Ali Al-Katsiry memuji keberadaan sosok waliullah Al-Imam As-Syeikh Abubakar bin Salim, yang banyak berjasa meneruskan perjuangan Baginda Nabi SAW dalam membawa umat manusia ke jalan yang benar. Beliau memakmurkan salah satu kota di Hadhramaut dengan cahaya ilmu dan makrifat yang termasyhur, dengan nama Inat. Pada mulanya, Inat Al-Qodimah (kota Inat lama) didirikan oleh Qabilah Al-Katsir pada tahun 629 H, sedangkan Inat Al-Jadidah (kota Inat baru) merupakan perkampungan di sekitar rumah dan Masjid Syeikh Abubakar bin Salim yang didiami oleh para pendatang yang ingin belajar dan tinggal bersama beliau..

Syeikh Abubakar bin Salim dilahirkan pada tanggal 13 Jumadil Akhir 919 H di kota Tarim, Yaman. Ia tumbuh dewasa menjadi seorang tokoh sufi yang masyhur sekaligus seorang yang alim dan mengamalkan ilmunya.

Ayahandanya adalah Habib Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman Assegaf

sedangkan Ibunda beliau adalah Syarifah Thalhah binti Agil bin Ahmad bin Abubakar As-Sakron bin Abdurrahman Assegaf.

Jauh sebelumnya, kelahiran beliau telah banyak diramalkan oleh para wali terkemuka, diantaranya adalah Al-Imam Ahmad bin Alwi yang tinggal di daerah Maryamah, sekali waktu beliau datang ke Inat dan ia duduk di sebidang tanah yang pada waktu itu hanya berupa semak belukar dan bebatuan. Ia berhenti sejenak di tempat tersebut dan berkata kepada masyarakat yang hadir waktu itu, “Akan lahir salah seorang anak kami yang akan mempunyai keagungan dan ia akan tinggal di tempat ini”. Selanjutnya ia berjalan berkeliling kota Inat sambil sesekali menunjukkan tempat-tempat yang kelak berkaitan dengan Syeikh Abubakar bin Salim, ia menunjukkan tempat yang akan dibangun masjid oleh Syeikh Abubakar dan ia sempat shalat disana, ia juga menunjukkan tempat dimana Syeikh Abubakar akan membangun rumah.

Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi meriwayatkan bahwa wali lainnya yang telah meramalkan keberadaan Syeikh Abubakar adalah Habib Muhammad bin Ahmad Jamalullail, ia berkata, “Akan ada disini (Inat) salah seorang dari anak-anak kami yang akan termasyhur dengan keagungan dan kewalian, dan Qubahnya akan berada dan didirikan di kota ini”.


Sejak kecil Syeikh Abubakar bin Salim telah menunjukkan tanda-tanda bahwa kelak ia akan menjadi orang yang memiliki kemuliaan. Pernah pada suatu kesempatan Syeikh Faris Ba Qais bersama para muridnya pergi ke Tarim. Ikut dalam rombongan Syeikh Faris 300 pemegang rebana yang mengiringi perjalanan itu dengan tabuhan rebananya. Setibanya di Tarim ia bersama pengikutnya mengunjungi Habib Syeikh Al-Idrus. Keesokan harinya Syeikh Faris berniat untuk menziarahi makam Nabi Hud AS, ia berkata kepada sejumlah habib, “Wahai habaib, kami membutuhkan seorang pengantar darimu, terus terang kami takut jika dalam perjalanan nanti ilmu kami dicuri orang”. Para Habib menyanggupi, “Jangan khawatir, kami cukup mempunyai banyak orang berilmu disini, lagi pula mencuri ilmu bukanlah kebiasaan kami”. Mulailah Syeikh Faris mencari orang yang dianggap mampu mengawal dia dan para pengikutnya, sampai akhirnya ia melewati Syeikh Abubakar bin Salim yang saat itu masih berusia 4 tahun, sedang bermain-main di jalan bersama teman sebayanya. “Aku pilih anak ini”, kata Syeikh Faris sambil menunjuk si kecil Abubakar bin Salim. Para habib segera menjawab, “Anak kecil ini mana pantas mengawalmu?”. Syeikh Faris berkata, “Aku adalah tamu kalian dan aku hanya menginginkan anak ini”. Para habib kemudian mendatangi ibu Syeikh Abubakar bin Salim dan mengabarkan persoalan yang mereka hadapi. Ibunya berkata, “Anak ini masih kecil, cari saja yang lain”. Mereka menjawab, “Syeikh Faris hanya menginginkan anakmu”. Akhirnya sang ibu memberikan izin.

Syeikh Abubakar kemudian digendong oleh pelayannya, Ba Qahawil, untuk mengawal Syeikh Faris dan rombongannya. Syeikh Umar Ba Makhramah, seorang wali Allah, yang ikut dalam rombongan Syeikh Faris memegang kepala Ba Qahawil sambil melantunkan syair yang diawali dengan bait-bait berikut:

Semoga Allah membahagiakan temanmu, hai Ba Qahawil pohon kurma apa ini, masih kecil sudah berbuah Mereka menanamnya di waktu Dhuha dan sudah memanennya di waktu senja.

Kemudian Syeikh Umar mengusap kepala Syeikh Abubakar bin Salim sambil meneruskan syairnya:

Wahai emas sejati, dengan pandangan-Nya Allah memeliharamu

semua lembah yang luas menjadi kecil dibanding lembahmu

Masa muda Syeikh Abubakar bin Salim dipenuhi dengan rutinitas pendidikan, selain didikan orang tuanya, juga tercatat beberapa ulama besar yang menjadi gurunya, antara lain, Syeikh Umar Basyeiban Ba’alawi, Syeikh Abdullah bin Muhammad Baqusyair, Syeikh Muhammad bin Abdullah Bamakhramah, Imam Ahmad bin Alwi Bajahdab, Syeikh Makruf Bajamal dan Syeikh Umar bin Abdullah Ba Makhramah.

Pada suatu ketika Syeikh Abubakar berniat belajar kepada salah seorang gurunya, Syeikh Makruf Bajamal yang tinggal di kota Syibam. Namun ia terpaksa berhenti di pinggir kota, karena Syeikh Makruf Bajamal belum berkenan menemuinya. Setiap kali dikatakan kepada Syeikh Makruf, “Anak Salim bin Abdullah meminta izin untuk menemuimu.” Jawabnya selalu, “Katakan kepadanya bahwa aku belum berkenan menerimanya”, meskipun ayah beliau adalah seorang yang dihormati karena kesalehannya. Syeikh Abubakar bin Salim tetap bersabar di bawah teriknya matahari dan dinginnya angin malam. Ia menguatkan hati dan mengendalikan nafsunya demi memperoleh asrar.

Baru setelah lewat 40 hari ia menerima kabar bahwa Syeikh Makruf bersedia menemuinya. Syeikh Makruf hanya memerlukan beberapa saat saja untuk menurunkan ilmu kepadanya. Sewaktu keluar dari kediaman Syeikh Makruf, ia mendapati sekumpulan kaum wanita yang mengelukan-elukan kedatangannya, “Selamat wahai Ibnu Salim, selamat wahai Ibnu Salim.” Mereka berbuat demikian dengan harapan mendapatkan sesuatu darinya. Iapun segera menyadari hal ini dan kemudian mendoakan agar mereka mendapatkan suami yang setia. Menurut Habib Ali hingga saat ini kaum wanita Syibam memiliki suami yang setia. Ketika Habib Ali ditanya, “Apakah Syeikh Ma’ruf juga termasuk salah satu dari guru-guru Syeikh Abubakar bin Salim?” Ia menjawab, “Ya, akan tetapi beliau kemudian mengungguli syeikhnya”.

Syeikh Abubakar bin Salim mempelajari Risalatul Qusyairiyah yang sangat terkenal dalam dunia tasawuf di bawah bimbingan Syeikh Umar bin Abdullah Ba Makhramah. Disebutkan dalam Kitab Tadzkirun Naas, sekali waktu Habib Ahmad bin Hasan Al-Atthas shalat ashar di masjid Syeikh Abdul Malik Baraja di Kota Seiwun, ia menunjukkan sebidang tanah sambil berkata : “Ini adalah sebidang tanah yang mana pernah terjadi satu peristiwa antara Syeikh Umar Bamakhramah dan Syeikh Abubakar bin Salim. Tatkala itu Syeikh Abubakar sedang belajar dan membaca kitab tasawwuf yang terkenal Risalah Al-Qusyairiyah, tatkala sedang membahas kekeramatan para wali, Syeikh Abubakar bin Salim bertanya kepada gurunya “Kekeramatan itu seperti apa ?”, dijawab oleh Syeikh Umar, “Contoh kekeramatan itu adalah engkau tanam biji kurma ini kemudian ia langsung tumbuh dan berbuah pada saat itu juga” Kemudian Syeikh Umar yang kala itu memang sedang memegang biji kurma, melemparkan biji kurma tersebut ke tanah dan kemudian langsung tumbuh dan berbuah, sehingga orang-orang yang hadir saat itu dapat memetik dan memakan buahnya. Orang-orang yang hadir pada saat itu berkata pada Syeikh Abubakar bin Salim “Kami menginginkan lauk pauk darimu yang ingin kami makan bersama kurma ini”. Tersirat dalam perkataan ini seolah-olah mereka bertanya kepada Syeikh Abubakar apakah ia mampu melakukan seperti yang telah dilakukan oleh Syeikh Umar. Lalu Syeikh Abubakar bin Salim berkata, “Pergilah kalian ke telaga masjid, lalu ambillah apa yang kalian temui disana”. Kemudian mereka pergi ke telaga masjid dan mendapati ikan yang besar disana. Lalu mereka ambil dan makan sebagai lauk pauk yang mereka inginkan.

Kegemaran Syeikh Abubakar bin Salim dalam menekuni ilmu pengetahuan dibuktikannya dengan menghatamkan Ihya’ Ulumuddin-nya Hujjatul Islam Al-Ghazali sebanyak 40 kali dan menghatamkan kitab fiqih syafi’iyah, Al-Minhaj karya Imam Nawawi sebanyak 3 kali. Dan diantara kebiasaannya adalah memberikan wejangan kepada masyarakat setelah sholat Jumat.

Diantara ibadah dan riyadohnya, pernah dalam waktu yang cukup lama ia berpuasa dan hanya berbuka dengan kurma yang masih hijau. Juga selama 90 hari ia berpuasa dan sholat malam di lembah Yabhur dan selama 40 tahun beliau sholat subuh di Masjid Baa Isa, di kota Lisk, dengan wudhu Isya. Setiap malam ia berziarah ke tanah pekuburan Tarim dan berkeliling untuk melakukan sholat di berbagai masjid di Tarim diakhiri dengan sholat Subuh berjamaah di masjid Baa Isa. Sepanjang hidupnya ia berziarah ke makam Nabiyullah Hud sebanyak 40 kali. Setiap malam, selama 40 tahun, ia berjalan dari Lisk menuju Tarim, melakukan sholat di setiap masjid di Tarim, mengusung air untuk mengisi tempat wudhu, tempat minum bagi para peziarah, dan kolam tempat minum hewan. Dan sampai akhir hayatnya sang Syeikh tidak pernah meninggalkan sholat witir dan dhuha.

Berbeda dengan para wali di Tarim yang hampir semuanya menutupi hal (keadaan) mereka, Syeikh Abubakar bin Salim mendapatkan perintah agar ia meng-izhar-kan (menampakkan) kewaliannya. Pada awalnya ia sendiri merasa enggan dan ragu, sampai akhirnya hal ini sampai kepada gurunya, Al-Imam Ahmad bin Alwi Bajahdab. Ia manyatakan, “Tidaklah maqam-nya Syeikh Abubakar bin Salim akan berkurang dengan nampaknya kewalian yang dimilikinya, karena kalimat Bismillah telah diletakkan di setiap perkataannya. Dan sungguh tidak berkurang sama sekali kadar maqam kewalian dikarenakan masyhurnya beliau, terkecuali seperti berkurangnya satu biji dalam makanan”. Tatkala perkataan guru beliau ini disampaikan kepadanya, Syeikh Abubakar bin Salim melakukan sujud syukur kepada Allah SWT dan berkata, “Aku merasa cukup dengan isyarat pengukuhan ini, sebagai lambang kemegahan dan keagungan yang diberikan Allah SWT”.

Setelah kejadian itu, ia berangkat dari Inat menuju Tarim untuk berziarah dan berjumpa dengan guru beliau tersebut, maka setelah sampai gurunya bertanya, “Bagaimanakah bentuk isyarat yang telah engkau terima ?”. Ia menjawab, “Sesungguhnya telah datang kepadaku serombongan pemuka kaum Ba’alawi dan bersama mereka ada Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, mereka semuanya memerintahkan kepadaku agar aku mengizharkan diriku. Bagaimanakah pandangan anda sendiri ?. Apakah saya dilarang ?. Sesungguhnya diriku sendiri kurang menyukai kemasyhuran ?”. Setelah mendengar perkataan beliau, gurunya diam sesaat dan setelah itu ia berbincang dengan Syeikh Abubakar bin Salim dengan perkataan yang tidak dipahami oleh orang yang hadir kala itu, kemudian gurunya berwasiat kepada Syeikh Abubakar dengan beberapa wasiat dan memerintahkan beliau untuk pulang dan menetap di kota Inat. Pulanglah Sang Syeikh ke Kota Inat, dan disanalah ia kemudian termasyhur. Namanya yang harum semerbak dikenal di seluruh penjuru negeri. Cahaya ilmu dan kemuliaannya berkemilau menerangi orang-orang yang berjalan di jalan Allah SWT. Ia hidupkan kota Inat dengan ilmu. Manusia datang dari berbagai pelosok daerah guna menuntut ilmu darinya sehingga Inat menjadi kota yang ramai oleh pencinta ilmu. Murid-murid beliau datang dari berbagai kota di Yaman dan mancanegara, antara lain Syam, India, Mesir dan berbagai negara lainnya. Diantara beberapa muridnya yang terkenal adalah Habib Ahmad bin Muhammad Al-Habsyi, Shohibus Syiib, Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Jufri, Habib Muhammad bin Alwi, Sayyid Yusuf Al-Qodhiy bin Abid Al-Hasany, Syeikh Hasan Basyaib serta beberapa murid lainnya.

Demi kepentingan pendidikan dan pengembangan dakwah, ia mendirikan sebuah masjid dan membeli tanah pekuburan yang luas. Al-Mualim Ahmad bin Abdurrahman Bawazir berkata, “Ada satu kisah yang diriwayatkan dari Al-Mualim Abdurrahman bin Muhammad Bawazir yang ia terima dari beberapa orang arifin, Beliau berkata, “Sesungguhnya tatkala Sayyidina Syeikh Abubakar bin Salim mendirikan masjidnya yang masyhur di Kota Inat, beliau berkata kepada orang yang sedang membangunnya dikala itu yaitu Ibnu Ali sambil menunjuk satu dinding yang baru didirikan, “Dinding yang didirikan ini tidak akan dimakmurkan oleh orang-orang, kami menginginkannya agar sedikit maju”. Ibnu Ali menjawab, “Ya Sayyidi yang engkau inginkan adalah kemaslahatan tetapi bagaimanakah kami akan merubahnya lagi, karena dinding ini sudah terlanjur didirikan di tempat ini”. Syeikh Abubakar yang saat itu sedang memegang tongkat memukul dinding tersebut, maka dengan izin Allah SWT dinding tersebut berpindah tempat dari tempatnya semula sampai pada tempat yang diinginkan olehnya”.

Penduduk Inat sangat mencintai Syeikh Abubakar, hal ini antara lain dikarenakan keluhuran budi pekerti yang dimilikinya. Beliau merupakan seorang dermawan yang suka menjamu tamu. Jika tamu yang berkunjung banyak, maka ia memotong satu atau dua ekor onta untuk jamuannya. Karena sambutan yang hangat ini, maka semakin banyak orang yang datang mengunjunginya. Dalam menjamu dan memenuhi kebutuhan para tamunya, ia tidak segan-segan untuk turun tangan sendiri. Mereka datang terhormat dan pulang pun dengan terhormat. Dalam kesehariannya, ia mengeluarkan sedekah sebagaimana orang yang tidak takut jatuh miskin, setiap hari ia membagikan seribu potong roti kepada fakir miskin.

Beliau dikenal sebagai seorang yang sangat tawadhu, tidak ada seorang pun yang pernah melihatnya duduk bersandar ataupun bersila. Syeikh Abdurrahman bin Ahmad Ba Wazir, seorang yang faqih, berkata, “Selama 15 tahun sebelum wafatnya, di dalam berbagai majlisnya, baik bersama kaum khusus ataupun awam, Syeikh Abubakar bin Salim tidak pernah terlihat duduk, kecuali dalam posisi duduknya orang yang sedang tasyahud akhir”.

Semasa hidupnya beliau selalu membaca wirid-wirid tarekat, dan secara pribadi, ia mempunyai beberapa wirid dan selawat. Antara lain sebuah amalan wirid besar miliknya yang disebut Hizb al-Hamd wa al-Majd yang ia diktekan kepada muridnya sebelum fajar tiba di sebuah masjid. Itu adalah karya terakhir yang disampaikan ke muridnya, Allamah Faqih Syeikh Muhammad bin Abdurrahman Bawazir pada tanggal 8 bulan Muharram tahun 992 H.

Selain menyusun wirid dan selawat, Syeikh Abubakar bin Salim juga banyak menulis kitab, terutama yang berhubungan dengan masalah tasawwuf, antara lain Miftah as-Sara’ir wa Kanz adz-Dzakha’ir yang beliau susun sebelum usianya melampaui 17 tahun. Mi’raj Al-Arwah yang membahas ilmu hakikat. Beliau memulai menulis buku ini pada tahun 987 H dan menyelesaikannya pada tahun 989 H. Fath Bab Al-Mawahib yang juga mendiskusikan masalah-masalah ilmu hakikat. Ia memulainya di bulan Syawwal tahun 991 H dan dirampungkan dalam tahun yang sama tangal 9 Dzulhijjah. Ma’arij At-Tawhid, serta sebuah diwan yang berisi pengalaman pada awal mula perjalanan spiritualnya.

Perjalanan kehidupan Syeikh Abubakar bin Salim banyak dibukukan oleh para ulama terkenal, tidak kurang dari 25 buku yang menceritakan biografi kehidupan beliau, antara lain Bulugh Azh-Zhafr wa Al-Maghanim fi Manaqib As-Syeikh Abi Bakr bin Salim karya Allamah Syeikh Muhammad bin Sirajuddin. Az-Zuhr Al-Basim fi Raba Al-Jannat fi Manaqib Abi Bakr bin Salim Shahib Inat oleh Allamah Syeikh Abdullah bin Abi Bakr bin Ahmad Basya’eib. Sayyid al-Musnad pemuka agama yang masyhur, Salim bin Ahmad bin Jindan Al-Alawy mengemukakan bahawa dia memiliki beberapa manuskrip (naskah yang masih berbentuk tulisan tangan) tentang Syeikh Abu Bakar bin Salim. Di antaranya Bughyatu Ahl Al-Inshaf bin Manaqib Asy-Syeikh Abi Bakr bin Salim bin Abdullah As-Seggaf karya Allamah Muhammad bin Umar bin Sholeh bin Abdurrahman Baraja Al-Khatib.

Banyak dari kitab-kitab tersebut yang mencantumkan kisah kekeramatan Syeikh Abubakar bin Salim. Seperti yang diriwayatkan oleh Faqih Muhammad bin Sirojuddin Jamal Rohimahullah dalam kitabnya Bulughizhofri wal Maghanimi fi Manaqibi As-Syeikh Abu Bakar bin Salim RA. Sesungguhnya aku bermusafir ke negeri India pada bulan Asyura, tahun 973 H dengan naik kapal, sampai akhirnya pada satu tempat yang dikenal dengan Khuril Gari. Pada saat itu sangatlah gelap dan hujan turun sangat lebatnya, dan pada saat itu kapal kami mengalami kerusakan. Dan para penumpangnya merasa kebingungan dan ketakutan sehingga mereka menangisi keadaan mereka. Aku sendiri berdoa kepada Allah SWT dan bertawassul kepada para waliullah. Akupun lalu beristighasah dan bertawajjuh hatiku kepada Sayyidi Syeikh Abubakar bin Salim. Setelah aku bertawassul kepadanya, aku mendengar suara beliau seolah-olah begitu dekat denganku. Lalu aku berdiri dan memberitahukan kepada penumpang bahwasanya telah mendapatkan isyarat dan kabar gembira dalam keadaan yang sangat sulit saat itu. Dan ternyata kamipun diselamatkan oleh Allah SWT dengan kemuliaan Sayyidi Syeikh Abubakar bin Salim.

Juga diceritakan dalam Kitab Insus Salikin Ila Maqomatil Washilin yang dikarang oleh Sayyid Abdullah bin Ahmad Baharun. Didalam kitab tersebut diceritakan kisah dari Umar bin Ali Bamansur. Kami mendapat kabar dari seorang arifin, ia bercerita, tatkala wafat seorang wali besar yaitu As-Syekh Makruf Bajamal di negeri Budhoh, salah satu daerah di Dau’an. Kaum solihin melihat dengan ainul bashiroh mereka ada sungai dengan cahaya yang cemerlang mengalir dari Budhoh. Sungai tersebut mengalir ke Syibam dan memenuhi kota itu dengan cahaya hingga ke Ghurfah dan Tarim, sampai akhirnya ke kota Inat dan terakhir bermuara di hadirat Syeikh Abubakar bin Salim. Dari kabar ini, akhirnya seluruh murid Syeikh Makruf mengetahi bahwa maqam kewalian gurunya telah berpindah kepada Syeikh Abubakar bin Salim. Tertulis di dalam Majmu’ Kalam Al-Habib Ali Al-Habsyi bahwasanya Syeikh Makruf memiliki murid lebih kurang 100 ribu orang.

Pada waktu menjelang wafatnya, Syeikh Abubakar berada di kamar Sayyid Yusuf Al-Qodhiy bin Abid Al-Hasany salah seorang murid kesayangannya. Sambil memangku gurunya, Sayyid Yusuf membaca ayat Quran yang berbunyi Falammaa Qodhoo Zaidun Wathoro. Ia membaca ayat ini sebagai isyarat keinginan dari Sayyid Yusuf untuk mewarisi kedudukan kewalian Syeikh Abubakar bin Salim dan bila Syeikh Abubakar bin Salim menjawab dengan Zawwajnaa Kahaa, maka itu adalah isyarat bahwa kedudukan beliau akan diwarisi oleh Sayyid Yusuf, namun Syeikh Abubakar bin Salim tidak menjawab seperti itu, malah ia berkata “Wahai Yusuf, engkau menginginkan kedudukan kami. Sungguh kedudukanku adalah untuk anakku dan kalau sekiranya aku tidak mendapati daripada salah satu anak-anakku yang akan mewarisi kedudukanku, maka aku akan tanam maqam kewalianku ini di padang pasir Inat”. Jawaban beliau ini mengkiaskan bahwa maqam kewalian Syeikh Abubakar bin Salim hanya diwarisi oleh anak-anak beliau. Dan pada malam Ahad, tanggal 27 Dzulhijjah 992 H, Syeikh Abubakar bin Salim berpulang ke rahmatullah. Dengan meninggalkan keturunan yang kelak juga menjadi pemuka kaum Alawiyyin yang meneruskan jejak ayahnya. Beliau dimakamkan di kota Inat, Hadramaut. Di turbah (makam) Syeikh Abubakar bin Salim terdapat pasir atau tanah (katsib) yang sangat termasyhur kemujarabannya bagi orang-orang yang menginginkan keberkahan. Yang termasyhur bahwa tanah ini bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit dan oleh karena itulah juga Syeikh Abubakar bin Salim mendapatkan gelar Maula Katsib. Diceritakan oleh Sayyid Abdul Qodir bin Abdullah bin Umar bin Syeikh Abubakar bin Salim, beliau berkata, “Suatu ketika aku dan guruku Al-Arif Billah Ahmad Al-Junaid berziarah ke Inat dan kepada Sayyidi Syeikh Abubakar bin Salim. Sesudah ziarah guruku menginginkan dan mengambil pasir di makam tersebut untuk menyembuhkan luka yang dideritanya pada salah satu kakinya. Dan ia meminta kepada salah seorang daripada keturunan Syeikh Abubakar agar meletakkan pasir tersebut atas luka beliau, dan luka tersebut sembuh dengan seizin Allah SWT.

Selang beberapa waktu setelah wafatnya Syeikh Abubakar bin Salim, berkumpullah anak-anak beliau untuk mencari dan memilih siapa diantara mereka yang akan menjadi khalifah menggantikan ayah mereka. Mereka berkumpul di suatu Syi’ib, dan barang siapa mendapat tanda dari Allah SWT, maka dialah yang dipilih sebagai khalifah. Ternyata yang mendapatkan tanda adalah Sayyidina Husein bin Syeikh Abubakar. Ia mendapatkan langsung satu bejana yang berisi air turun dari langit. Maka anak-anak Syeikh Abubakar bin Salim pun meminum daripada bejana tersebut dan mereka berkata kepada Sayyidina Husein, ”Engkaulah yang berhak menjadi khalifah”.

Pada riwayat yang lain, diceritakan oleh Al-Imam Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi, “Tatkala Syeikh Abubakar bin Salim wafat, maka setiap anak-anak daripada Syeikh Abubakar bin Salim menginginkan menjadi khalifah menggantikan ayahanda mereka. Maka ibunda mereka berkata, “Kalian semuanya mempunyai keberkahan, akan tetapi siapa yang keramatnya terlihat maka ia akan menjadi khalifah”. Maka anak-anak Syeikh Abubakar bin Salim pergi ke Wadi Inat. Dan mereka membentangkan sajadah masing-masing ditengah Wadi Inat, lalu melakukan shalat serta bermunajah kepada Allah SWT. Tak lama kemudian turun kepada Syeikh Umar Al-Mahdhar bejana dan rantai emas dari langit. Maka Syeikh Umar memanggil saudara-saudaranya, “Apakah kalian mendapatkan sesuatu?”. Mereka menjawab “Tidak”. Maka merekapun menyerahkan kekhalifahan kepada Syeikh Umar, namun kekhalifahan diserahkan dan dipegang oleh Sayyidina Husin. Beliau berkomentar mengenai saudaranya Syeikh Umar Al-Mahdhar. “Sesungguhnya aku bersahabat dengan saudaraku Umar Al-Mahdhar dan aku tidak merasa sebagai saudaranya, akan tetapi aku merasa dan menempatkan diriku sebagai pembantu dan murid baginya”.

Dikisahkan bahwa Sayyidina Husin sekali waktu mendapatkan gangguan dari para pembesar setempat beserta pasukannya, sehingga membuatnya berhijrah ke Mekkah dan Madinah dan menetap disana selama 7 tahun. Pada suatu hari beliau didatangi oleh Nabi Khidir AS dan berkata, “Sesungguhnya datukmu Rasulullah SAW mengucapkan salam atasmu dan memerintahkan dirimu agar segera pulang ke Hadramaut”. Nabi Khidir memberitahukan kepadanya bahwa rasa permusuhan dari musuh-musuhnya akan dihilangkan oleh Allah dan musuh-musuh beliau akan berubah mencintainya. Dan Nabi Khidir memberitahukan kepadanya agar berjalan bersama satu kafilah Arab di Hadramaut. Nabi Khidir juga memberitahukan kepada beliau bahwa kafilah ini akan mempunyai hubungan yang dekat dengan keturunan beliau sampai hari kiamat. Selain itu Nabi Khidir memberikan kepada Sayyidina Husin 3 buah benda, yaitu bejana atau gelas yang besar, tongkat dan gendang. Ketika sang Sayyid pulang, ia mendapati kaum syiah zaidiyah sedang merajalela dan berbuat semena-mena. Lalu beliau memerintahkan agar menabuh gendang yang diberikan oleh Nabi Khidir diatas gunung. Ketika gendang tersebut ditabuh, dengan izin Allah, kaum Zaidiyah yang tadinya berlaku semena-mena tiba-tiba bertingkah seperti orang gila, dan merekapun kabur tercerai berai. Belakangan Imam Ahmad bin Hasan Al-Atthas mengatakan, “Kami telah melihat bejana yang diberikan Nabi Allah Khidir kepada Sayyidina Husein bin Syeikh Abubakar bin Salim beserta tongkatnya ada di Kota Inat”.

Hingga saat ini masih banyak keturunan Syeikh Abubakar bin Salim, disebutkan didalam kitab Mu’jamul Lathief, selain dari jalur Sayyidina Husin juga diantaranya yang terkenal dengan fam Al-Hamid, Bin Jindan, Al-Muhdar dan Al-Haddar. Keluarga Bin Jindan, nasab mereka bersambung kepada Ali bin Muhammad bin Husein bin Syeikh Abubakar bin Salim. Keluarga Al-Hamid, merupakan keturunan dari Al-Hamid bin Syeikh Abubakar bin Salim. Keluarga Al-Muhdhar, keturunan Umar Al-Muhdhar. Syeikh Abubakar bin Salim memberi nama Umar Al-Muhdhar karena ingin mendapatkan berkah Sayyidina Umar Al-Muhdhar bin Abdurrahman As-Seggaf, juga dengan harapan agar anaknya dapat meneladani dan mewarisi ilmu yang dimiliki oleh Umar Al-Muhdhar, seorang arif billah yang amat dikaguminya. Dan keluarga Al-Haddar, yang merupakan keturunan Ahmad Al-Haddar bin Abdullah bin Ali bin Muhsin bin Husin bin Syeikh Abubakar bin Salim.

Karya-karyanya

Antara lain:

- Miftah As-sara’ir wa kanz Adz-Dzakha’ir. Kitab ini beliau karang sebelum usianya melampaui
17 tahun.
- Mi’raj Al-Arwah membahas ilmu hakikat. Beliau memulai menulis buku ini pada tahun 987 H
dan menyelesaikannya pada tahun 989 H.
- Fath Bab Al-Mawahib yang juga mendiskusikan masalah-masalah ilmu hakikat. Dia
memulainya di bulan Syawwal tahun 991 H dan dirampungkan dalam tahun yang sama tangal
9 bulan Dzul-Hijjah.
- Ma’arij At-Tawhid
- Dan sebuah diwan yang berisi pengalaman pada awal mula perjalanan spiritualnya.

Kata Mutiara dan Untaian Hikmah

Beliau memiliki banyak kata mutiara dan untaian hikmah yang terkenal, antara lain:

Pertama:
Paling bernilainya saat-saat dalam hidup adalah ketika kamu tidak lagi menemukan dirimu. Sebaliknya adalah ketika kamu masih menemukan dirimu. Ketahuilah wahai hamba Allah, bahwa engkau takkan mencapai Allah sampai kau fanakan dirimu dan kau hapuskan inderamu. Barang siapa yang mengenal dirinya (dalam keadaan tak memiliki apa pun juga), tidak akan melihat kecuali Allah; dan barang siapa tidak mengenal dirinya (sebagai tidak memiliki suatu apapun) maka tidak akan melihat Allah. Karena segala tempat hanya untuk mengalirkan apa yang di dalamnya.

Kedua:
Ungkapan beliau untuk menyuruh orang bergiat dan tidak menyia-nyiakan waktu: “Siapa yang tidak gigih di awal (bidayat) tidak akan sampai garis akhir (nihayat). Dan orang yang tidak bersungguh-sungguh (mujahadat), takkan mencapai kebenaran (musyahadat). Allah SWT berfirman: “Barangsiapa yang berjuang di jalan Kami, maka akan Kami tunjukkan kepadanya jalan-jalan Kami”. Siapa pun yang tidak menghemat dan menjaga awqat (waktu-waktu) tidak akan selamat dari berbagia afat (malapetaka). Orang-orang yang telah melakukan kesalahan, maka layak mendapat siksaan.

Ketiga:
Tentang persahabatan: “Siapa yang bergaul bersama orang baik-baik, dia layak mendapatkan makrifat dan rahasia (sirr). Dan mereka yang bergaul dengan para pendosa dan orang bejat, akan berhak mendapat hina dan api neraka”.

Keempat:
Penafsirannya atas sabda Rasul s.a.w: “Aku tidaklah seperti kalian. Aku selalu dalam naungan Tuhanku yang memberiku makan dan minum”. Makanan dan minuman itu, menurutnya, bersifat spiritual yang datang datang dari haribaan Yang Maha Suci”.

Kelima:
Engkau tidak akan mendapatkan berbagai hakikat, jika kamu belum meninggalkan benda-benda yang kau cintai (’Ala’iq). Orang yang rela dengan pemberian Allah (qana’ah), akan mendapt ketenteraman dan keselamatan. Sebaliknya, orang yang tamak, akan menjadi hina dan menyesal. Orang arif adalah orang yang memandang aib-aib dirinya. Sedangkan orang lalai adalah orang yang menyoroti aib-aib orang lain. Banyaklah diam maka kamu akan selamat. Orang yang banyak bicara akan banyak menyesal.

Keenam:
Benamkanlah wujudmu dalam Wujud-Nya. Hapuskanlah penglihatanmu, (dan gunakanlah) Penglihatan-Nya. Setelah semua itu, bersiaplah mendapat janji-Nya. Ambillah dari ilmu apa yang berguna, manakala engkau mendengarkanku. Resapilah, maka kamu akan meliht ucapan-ucapanku dlam keadaan terang-benderang. Insya-Allah….! Mengertilah bahawa Tuhan itu tertampakkan dalam kalbu para wali-Nya yang arif. Itu karena mereka lenyap dari selain-Nya, raib dari pandangan alam-raya melaluiKebenderangan-Nya. Di pagi dan sore hari, mereka menjadi orang-orang yang taat dalam suluk, takut dan berharap, ruku’ dan sujud, riang dan digembirakan (dengan berita gembira), dan rela akan qadha’ dan qadar-Nya. Mereka tidak berikhtiar untuk mendapat sesuatu kecuali apa-apa yang telah ditetapkan Tuhan untuk mereka”.

Ketujuh:
Orang yang bahagia adalah orang yang dibahagiakan Allah tanpa sebab (sebab efesien yang terdekat, melainkan murni anugerah fadhl dari Allah). Ini dalam bahasa Hakikat. Adapun dalam bahasa Syari’at, orang bahagia adalah orang yang Allah bahagiakan mereka dengan amal-amal saleh. Sedang orang yang celaka, adalah orang yang Allah celakakan mereka dengan meninggalkan amal-amal saleh serta merusak Syariat - kami berharap ampunan dan pengampunan dari Allah.

Kedelapan:
Orang celaka adalah yang mengikuti diri dan hawa nafsunya. Dan orang yang bahagia adalah orang yang menentang diri dan hawa nafsunya, minggat dri bumi menuju Tuhannya, dan selalu menjalankan sunnah-sunnah Nabi s.a.w.

Kesembilan:
Rendah-hatilah dan jangan bersikap congkak dan angkuh.

Kesepuluh:
Kemenanganmu teletak pada pengekangan diri dan sebaliknya kehancuranmu teletak pada pengumbaran diri. Kekanglah dia dan jangan kau umbar, maka engkau pasti akn menang (dalam melawan diri) dan selamat, Insya-Allah. Orang bijak adalah orang yang mengenal dirinya sedangkan orang jahil adalah orang yang tidak mengenal dirinya. Betapa mudah bagi para ‘arif billah untuk membimbing orang jahil. Karena, kebahagiaan abadi dapt diperoleh dengan selayang pandang. Demikian pula tirai-tirai hakikat menyelubungi hati dengan hanya sekali memandang selain-Nya. Padahal Hakikat itu juga jelas tidak erhalang sehelai hijab pun. Relakan dirimu dengan apa yang telah Allah tetapkan padamu. Sebagian orang berkata: “40 tahun lamanya Allah menetapkan sesuatu pada diriku yang kemudian aku membencinya”.

Kesebelas:
Semoga Allah memberimu taufik atas apa yang Dia ingini dan redhai. Tetapkanlah berserah diri kepada Allah. Teguhlah dalam menjalankan tatacara mengikut apa yang dilarang dan diperintahkan Rasul s.a.w. Berbaik prasangkalah kepada hamba-hamba Allah. Karena prasangka buruk itu bererti tiada taufik. Teruslah rela dengan qadha’ walaupun musibah besar menimpamu. Tanamkanlah kesabaran yang indah (Ash-Shabr Al-Jamil) dalam dirimu. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah mengganjar orang-orang yang sabar itu tanpa perhitungan. Tinggalkanlah apa yang tidak menyangkut dirimu dan perketatlah penjagaan terhadap dirimu”.

Keduabelas:
Dunia ini putra akhirat. Oleh karena itu, siapa yang telah menikahi (dunia), haramlah atasnya si ibu (akhirat).

Masih banyak lagi ucapan beliau r.a. yang lain yang sangat bernilai.

Manaqib (biografi) beliau

Banyak sekali buku-buku yang ditulis mengenai biorafi beliau yang ditulis para alim besar.

Antara lain:

- Bulugh Azh-Zhafr wa Al-Maghanim fi Manaqib Asy-Syaikh Abi Bakr bin Salim karya Allamah
Syeikh Muhammad bin Sirajuddin.
- Az-Zuhr Al-Basim fi Raba Al-Jannat; fi Manaqib Abi Bakr bin Salim Shahib ‘Inat oleh Allamah
Syeikh Abdullah bin Abi Bakr bin Ahmad Basya’eib.
- Sayyid al-Musnad pemuka agama yang masyhur, Salim bin Ahmad bin Jindan Al-’Alawy
mengemukakan bahawa dia memiliki beberapa manuskrip (naskah yang masih berbentuk
tulisan tangan) tentang Syeikh Abu Bakar bin Salim. Di antaranya; Bughyatu Ahl Al-Inshaf bin
Manaqib Asy-Syeikh Abi Bakr bin Salim bin Abdullah As-Saqqaf karya Allamah Muhammad
bin Umar bin Shalih bin Abdurraman Baraja’ Al-Khatib.



(Rafiq Husin BSA)





Sumber :

- Manaqib Sayyidina Al-Imam Al-Qutb Al-Ghauts Al-Fakhrul Wujud As-Syekh Abu Bakar bin
Salim RA, Manaqib Para Imam Ba’alawi V, As-Sayyid Muhammad Rafiq bin Luqman Al-Kaff
Gathmyr, Penerbit Majlis Taklim Al-Yusrain, Cet. I, 2004.

- Miftahu As-Sarair wa Kanzu Adz-Dzakhair - Menyingkap Rahasia Hati, Penerbit Putera
Riyadi, Cet. I, 1998.
Selengkapnya...

As - Syeikh Abu Bakar Bin SalimSocialTwist Tell-a-Friend

Habib Ali bin Husein Al-Attas

Diposkan oleh Admin On 3:33 PM 0 komentar


glitter-graphics.com


Habib Ali bin Husein Al-Attas, beliau lebih dikenal dengan sebutan Habib Ali Bungur.

Beliau merupakan rantai jaringan Ulama Betawi sampai sekarang ini. Beliau memiliki jasa yang sangat besar dalam menorehkan jejak langkah dakwah dikalangan masyarakat Betawi. Beliau menjadi rujukan umat di zamannya, Al-Habib Salim bin Jindan mengatakan bahwa Al-Habib Ali bin Husein Al-Attas dan Al-Habib Ali Kwitang bagaikan kedua bola matanya, dikarenakan keluasan khazanah keilmuan kedua habib itu.

Adapun Silsilah beliau adalah :

Al-Habib Ali bin Husein bin Muhammad bin Husein bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husein bin Al-Imam Al-Qutub Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas bin Agil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman Assegaf bin Mau
ladawilah bin Ali bin Alwi Al-Ghuyyur bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam bin Ali bin Muhammmad Sahib Mirbath bin Ali Khala’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin ‘Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-‘Uraidhi bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad Baqir bin Ali Zaenal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam.

Beliau lahir di Huraidhah, Hadramaut, pada tanggal 1 Muharram 1309 H, bertepatan dengan 1889 M. semenjak usia 6 tahun beliau belajar berbagai ilmu keislaman pada para ulama dan auliya yang hidup di Hadramaut saat itu, sebagaimana jejak langkah generasi pendahulunya, setelah mendalami agama yang cukup di Hadramaut, pada tahun 1912 M beliau pergi ke tanah suci unuk menunaikan haji serta berziarah ke makam datuknya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam di Madinah. Disana beliau menetap di Makkah. Hari-hari beliau dipergunakan untuk menimba ilmu kepada para ulama yang berada di Hijaz. Setelah 4 tahun (tak banyak sejarawan yang menulis bagaimana perjalanan beliau hingga kemudian tiba di Jakarta) setelah menetap di Jakarta, beliau berguru kepada para ulama yang berada di tanah air, diantaranya : Al-Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas (Empang-Bogor), Al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Attas (Pekalongan) dan Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi (Surabaya), Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhor (Bondowoso).

Di daerah Cikini beliau tinggal, sebuah kampung yang masyarakatnya hidup dibawah garis kemiskinan. Beliau tinggal bersama-sama rakyat jelata. Setiap orang mengenal Habib Ali, pasti akan berkata “hidupnya sederhana, tawadhu’, teguh memegang prinsip, menolak pengkultusan manusia, berani membela kebenaran, luas dalam pemikiran, mendalam di bidang ilmu pengetahuan, tidak membeda-bedakan yang kaya dan yang miskin, mendorong terbentuknya Negara Indonesia yang bersatu, utuh serta berdaulat, tidak segan-segan menegur para pejabat yang mendatanginya dan selalu menyampaikan agar jurang antara pemimpin dan rakyat dihilangkan, rakyat mesti dicintai,”hal inilah yang menyebabkan rakyat mencintai Al-Habib Ali bin Husein Al-Attas, beliau tidak pernah menadah tangannya kepada orang-orang kaya harta, sebab beliau memiliki kekayaan hati, beliau tidak mau menengadahkan tangannya dibawah, kecuali hanya memohon kepada Rabbul ‘Alamin. Beliau memiliki ketawakalan yang tinggi kepada Allah azza wa jalla. Beliau selalu mengorbankan semangat anti penjajah dengan membawakan ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam yang menganjurkan melawan penjajah. “Penjajah adalah penindas, kafir dan wajib diperangi” begitulah yang sering beliau ucapkan.

Beliau tergolong pejuang yang anti komunis. Pada masa pemberontakan PKI, beliau selalu mengatakan bahwa :

“PKI dan komunis akan lenyap dari bumi Indonesia dan rakyat akan selalu melawan kekuatan atheis. Ini berkah perjuangan para ulama dan auliya yang jasadnya bertebaran di seluruh nusantara”.


Semasa hidupnya beliau tidak pernah berhenti dan tak kenal lelah dalam berdakwah. Salah satu karya terbesar beliau adalah kitab Tajul A’ras fi Manaqib Al-Qutub Al-Habib Sholeh bin Abdullah Al-Attas, sebuah kitab sejarah para ulama Hadramaut yang pernah beliau jumpai, dari masa penjajahan Inggris di Hadramaut, sehingga sekilas perjalanan para ulama Hadramaut di Indonesia. Buku itu juga berisi tentang beberapa kandungan ilmu tasawuf dan Thariqah Alawiyah.

Semasa hidupnya beliau selalu berjuang membela umat, kesederhanaan serta istiqomahnya dalam mempraktekkan ajaran islam dalam kehidupan sehari-hari menjadi taulan yang baik bagi umat. Beliau selalu mengajarkan dan mempraktekkan bahwa islam mengajak umat dari kegelapan pada cahaya yang terang, membawa dari taraf kemiskinan kepada taraf keadilan dan kemakmuran dan beliau pun wafat pada tanggal 16 Februari 1976, jam 06:10 pagi dalam usia 88 tahun dan beliau dimakamkan di pemakaman Al-Hawi, condet Jakarta timur.





Sumber: http://nurulmusthofa.org
Selengkapnya...

Habib Ali bin Husein Al-AttasSocialTwist Tell-a-Friend

Undangan Maulid Majelis Al-Anwar

Diposkan oleh Admin On 11:32 AM 0 komentar

Hadirilah dan Syiarkanlah

"Maulid Nabi MUHAMMAD SAW & Tabliq Akbar"


Yang di selenggarakan oleh Majelis Ta'lim dan Tadzkir Al-Anwar ( Pimpinan Alhabib Muhammad Syahab )

PadaTgl 25 Maret 2009 ( Malam Kamis )
Jam 8 Malam
Bertempat di Jln Menteng Wadas Utara II
Kel Ps Manggis, Kec Setia Budi Jak-Sel
Belakang Psr Rumput Minang Kabau


Konvoi dari kediaman Alhabib Muhammad Syahab,
Jln Raya Condet Gg Eretan II ( kumpul Jam 7 Malam
)

Penceramah :
Alhabib Ali Bin Abdurrahman Assegaf
Alhabib Muhammad Syahab
Al Ustadz H Muhammad Arifin Ilham
Dan Para Habaib,Asatizhah dan Umaro' lainnya
Klik Gambar
untuk Tampilan Besar



Konfirmasi Acara : info@majelisalanwar.com
atau bisa menghubungin Nmr 08128105479, 02192917459 Fax 0218087179

Selengkapnya...

Undangan Maulid Majelis Al-AnwarSocialTwist Tell-a-Friend

SYEIKH ABDULLAH AL-HARARI AL-HABASYI

Diposkan oleh Admin On 11:23 PM 0 komentar

Image and video hosting by TinyPic








Beliau adalah seorang yang alim, al-‘Allamah al-Muhaddis, pakar dalam ilmu fiqih, dan kuat berhujah menentang golongan-golongan yang tergelincir dari landasan Ahlus Sunnah Wal Jamaah, seorang yang zuhud dan bertaqwa, Beliau adala Abdullah bin Muhammad bin Yusuf bin Abdullah bin Jamei’, berasal dari Harar , berketurunan asy-Syaibi dan al-Abdary beliau juga merupakan Mufti Harar [dilantik menjadi mufti sebelum berumur 18 tahun].


Beliau terlahir di bandar Harar pada tahun 1910 bersamaan 1328 Hijrah (beliau lahir lebih awal dari pada tahun yang tercatat, yang tercatat hanyalah yang tertera pada pendaftaran lama).


Sekilas tentang perjalanan beliau:

Beliau telah dibesarkan di rumah yang penuh dengan kasih sayang pada ilmu agama. Beliau telah menghafal al Quran ketika berumur 7 tahun. Ayah beliau telah membacakan ke atasnya kitab al Muqaddimah al-Hadhramiah dan kitab al-Mukhtasar as-Saghir dalam ilmu fiqih yang mana kitab tersebut amat mashyur di dareahnnya.

Beliau juga telah menghafal berbagai matan-matan ilmu agama yang lain, kecenderungannya untuk mendalami ilmu hadis telah membuatkan beliau menghafal kitab-kitab hadis yang enam [سنن ستة] berikut dengan sanad-sanadnya, sehingga beliau telah diijazahkan meriwayat hadis-hadis nabi ketika beliau kurang dari umur 18 tahun.

Karena masih merasa belum cukup dengan ulama di negaranya maka beliaupun merantau keseluruh pelusuk Habsyah dan Somalia untuk menuntut ilmu dan mendengarnya daripada ulama setempat, dengan usaha yang keras Syeikh Abdullah sanggup merintangi kesusahan dan kepayahan bahkan ketika dia mendengar ada orang alim disesuatu tempat maka dia segera pergi kepadanya seperti mana yang dilakukan ulama salafussolih yang terdahulu. Kehebatan, ketajaman fikiran dan kekuatan hafalannya yang hebat selain kemampuannya mendalami ilmu fiqih Syafii dan usulnya dan mengetahui sudut khilaf dalam mazhab beliau juga sangat arif pendapat yang terdapat dalam mazhab Maliki, Hanafi dan Hanbali sehingga beliau sering menjadi tempat rujukan ke mana sahaja beliau pergi, beliau juga diminta untuk mengeluarkan fatwa di bandarnya Harar dan sekitarnya.

Beliau telah mempelajari ilmu fiqih Syafii dan ilmu usulnya dan juga ilmu nahu dan kitab-kitab yang lain antaranya seperti Alfiah Zubad, Kitab Tanbih, Minhaj, Alfiah bin Malik, al-Luma’ as-Syirazi dan banyak lagi dari Syeikh Muhammad Abdul Salam al-Harary, Syeikh Muhammad Omar Jamei’ al-Harary, Syeikh Muhammad Rasyad al-Habasyi, Syeikh Ibrahim Abil Gaish al-Harary, Syeikh Yunus al-Habasyi dan Syeikh Muhammad Siraj al-Jabruty.

Untuk ilmu bahasa arab beliau telah belajar pada Syeikh as-Soleh Ahmad al-Basir, Syeikh Ahmad bin Muhammad al-Habasyi dan ulama-ulama lain. Sedangkan tiga mazhab fiqih yang lain dan usulnya beliau belajar dari Syeikh Muhammad al-Araby al-Fasy dan Syeikh Abdur Rahman al-Habasyi.

Beliau juga belajar ilmu tafsir dari Syeikh Syarif al-Habasyi di tempat tinggalnya iaitu Jimmah.

Beliau telah mempelajari ilmu hadis dari as-Syeikh Abu Bakar Muhammad Siraj al-Jabruty Mufti Habsyah dan Syeikh Abdul Rahman bin Abdillah al-Habasyi.

Beliau mempelajari ilmu Qiraat 14 dari dan ilmu Hadis dari gurunya yang alim iaitu Syeikh al-Muhaddis Ahmad Abdul al-Muttalib al-Jabaruty al-Habasyi , beliau adalah ketua guru kepada ahli-ahli ilmu Qiraat di Masjidil Haram di Mekah dan dari Syeikh Daud al-Jabruty al-Qori, Syeikh al-Muqri Mahmud Faiz ad-Dair Atony ilmu qiraat yang tujuh.

Ketika beliau berada di Mekah beliau sempat berkenalan dan bersahabat dengan ulama-ulama Mekah diantaranya ialah Syeikh al-Alim as-Said Alawi al-Maliki, Syeikh Amin al-Kitbi, Syeikh al-Muhaddis Muhammad Yasin al-Padani [berasal dari Padang, Indonesia], Syeikh Muhammad al-Araby at-Tabban, beliau juga pernah mengambil ijazah amalan zikir Tariqat an Naqsyabandiah dari Syeikh Abdul Ghafur al-Afghani An-Naqsyabandi.

Kemudian beliau telah pergi ke Madinah al-Munawwarah di sana beliau sempat belajar ilmu-ilmu hadis dan membaca hadis-hadis nabi dari Syeikh al-Muhaddis Muhammad bin Ali al-Siddiq al-Bakry al-Hindi al-Hanafi dan syeikh tersebut mengijazahkan ilmu hadis kepada beliau. Di sana juga beliau sempat pergi ke Maktabah Arif Hikmat dan Maktabah al-Mahmudiah dan mengkaji ilmu-ilmu di sana, dan di katakan beliau telah menghafal hampir kesemua kitab di dalam maktabah-maktabah tersebut. Di Madinah juga beliau sempat bertemu dengan seorang ulama hadis iaitu Syeikh al-Muhaddis Ibrahim al-Khattani anak murid kepada seorang ulama yang masyhur iaitu Syeikh al-Muhaddis Abdul Qadir Syalbi. Adapun ijazah-ijazah ilmu agama yang beliau perolehi dari ulama-ulama memang sangat banyak tetapi tidak disebutkan di sini.

Setelah itu beliau menuju ke Baitul Muqaddis dan seterusnya ke dataran Syam yang dulu terkenal dengan seorang ulama yang sangat alim iaitu al Muhaddis Syeikh Badruddin al-Hasani tetapi beliau sudah lama meninggal dunia sebelum kedatangan Syeikh Abdullah al-Harary ke sana. Di sana Syeikh Abdullah al-Harary menjadi rujukan dalam masalah-masalah agama bahkan beliau mengembara ke desa-desa dan ke bandar-bandar di antara Dimashq, Beirut, Himsh, Hamah, Halab dan bandar-bandar yang lain di seluruh pelusuk bumi Syam, kemudian dia menetap di Jamik al-Khuthat di satu tempat yang bernama Khaimuriah di Dimashq dan menyampaikan ilmu-ilmu Islam yang berguna dan bermanfaat dan mengajarkannya berteraskan Manhaj atau metodologi Ahlus Sunnah Wal Jamaah, para masyaikh, alim ulama Syam merujuk kepada Syeikh Abdullah tentang bermacam-macam masalah sehingga mereka mengatakan bahawa Syeikh Abdullah ini adalah pengganti kepada al Muhaddis Syeikh Badruddin al-Hasani dari segi ilmu. Kemudian beliau digelar sebagai "Al-Muhaddis Ad-Diyar Asy-Syamiyyah".

Syeikh Abdullah telah menerima ijazah tariqat al-Rifaeyyah dari Syeikh Abdul Rahman al-Sabsabi al Hamawy dan dari Syeikh Tohir al-Kayaly al-Humsi. Beliau sempat menerima ijazah tariqat al-Qadiriyah dari Syeikh Ahmad al-Arbiny dan dari Syeikh at-Toyyib ad-Dimasyqi.

Pada tahun 1950 bersamaan dengan 1370 hijrah beliau telah pergi ke Beirut dan di sambut oleh ulama-ulama di sana seperti Syeikh Taufiq al-Hibry. Dan pada tahun 1969 bersamaan 1389 beliau diminta oleh Rector al-Azhar cawangan di Lubnan untuk mengajar ilmu akidah di sana.

Sekilas kepribadian beliau:

Syeikh Abdullah adalah seorang yang zuhud sehingga susah untuk melihat beliau dalam satu masa dia tidak menggunakan masanya melainkan menyempurnakan masa tersebut untuk mengajar atau zikir atau membaca atau menyampaikan nasihat. seorang yang warak, tawadhuk, kuat mengerjakan ibadat, banyak berzikir, sentiasa menggunakan masanya untuk menyampaikan ilmu agama dengan mengajar dan berzikir. Kuat berpegang dengan Kitab [al-Quran] dan Sunnah, mempunyai ingatan dan kecerdasan akal yang kuat dengan hujah dan dalil yang teguh, sangat adil dalam munghukumkan sesuatu, sentiasa memerangi terhadap siapa sahaja yang melanggar syarak, mempunyai kekuatan dan semangat yang tinggi dalam amal makruf dan nahi munkar sehingga golongan bid'ah menfitnahnya, tetapi Allah memberkati amalannya dan memelihara manhaj Ahlus Sunnah hinggakan telah lahir beribu-ribu anak muridnya bertebaran di muka bumi ini dari Negara Arab, Eropah, Afrika, Australia dan juga Asia.

Sekilas karya-karya Beliau:

Syeikh Abdullah al-Harary sebenarnya tidak mempunyai waktu yang mencukupi untuk mengarang banyak kitab kerana beliau amat sibuk dengan pengajaran dan memperbetulkan akidah-akidah manusia, di samping menentang golongan sesat yang mereka cipta perkara baru dalam agama. Walau bagaimanapun dalam kesibukan itu beliau tetap juga menulis pelbagai karangan dan risalah-risalah antaranya ialah :

1. Syarah Alfiah As-Suyuthi.
2. Qosidah Fil I’tiqodi.
3. As-Shirothul Mustaqiim.
4. Ad-Dalilul Qawim ‘Ala As-Shirothil Mustaqiim.
5. Mukhtasar Abdillah Al-Harary Al-kafil Bi ‘Ilmi Ad-Din Ad-Dharury ‘Ala Mazhabi Asy-Syafii. [Kitab yang diterjemahkan ini]
6. Mukhtasar Abdillah Al-Harary Al-kafil Bi ‘Ilmi Ad-Din Ad-Dharury ‘Ala Mazhabi Al-Imam Malik
7. Mukhtasar Abdillah Al-Harary Al-kafil Bi ‘Ilmi Ad-Din Ad-Dharury ‘Ala Mazhabi Abi Hanifah.
8. Bughyah At-Tholib li Ma’rifatil Ilmi Ad-Deenil Wajib.
9. At-Ta’aqqub Al-Hatsits ‘Ala Man Tho’ana fi Ma Sohha Minal Hadis.
10. Nashratul Ta’aqqubil Hatsits ‘Ala Man Tho’ana Fima Sohha Minal Hadis
11. Ar- Rawa-ihuz Zakiyyah fi Maulidi Khairil Bariyyah.
12. Syarah Aqidah An- Nasafiyyah.
13. Syarah Al-fiyah Al-Zubad fi fiqhi Asy- Syafii.
14. Syarah Matan Abi Syujaa’ Fi Fiqhi Asy Syafii
15. Syarah As-Shirothil Mustaqiim.
16. Syarah Matnil ‘Ashmawiyyah.
17. Syarah Mutammimah Al-Aa jurumiyah fin Nahu.
18. Syarah Al-Baiquniyyah.
19. Shorihul Bayan fi Roddi ‘Ala Man Khalafal Quran.
20. Al-Maqoolaat As-sunniyyah fi Kasyfi Dhalalaat Ahmad bin Taimiyah.
21. Kitab Ad-Durrin Nadhidi Fi Ahkamit Tajwid.
22. Idzhar Al-‘Aqidah As-Sunniyyah bi Syarah al-‘Aqidah At- Thohawiyah.
23. At-Tahzir al-Wajib
24. Mandzumah “Nasihat At-Thullab”.
25. Risalah Fi Buthlan Da’wa Awwaliyyatil An-Nurul Muhammady.
26. Risalah Fi Roddi ‘ala Qaulil ba’dhi Innar Rasula ya’lamu kulla Syai’in ya’lamuhumullah.
27. Ad-Durarul Bahiyyah Fi Halli Alfadz Al-‘Aqidah At-Tahawiyah.
28. Al-Ghaaratul Imaniyyah Fi Roddi Mafasidi At-Tahriryyah.
29. Syarah Mandzumah As-Shibyan fil ‘Arudh
30. Syarah As-Sifat Ats-Salats ‘Asyarata Al-Wajib Lillah
31. Al’Aqidah Al-Munjiyyah
32. Syarah At-Tanbih
33. Syarah Manhaj At-Tullab.
34. Syarah Kitab Sullamit Taufiq ila Mahabbatillah ‘Ala Tahqiqi Lil Syeikh Abdillah Ba’lawi

Sekilas tentang wafatnya:

Beliau kembali ke Rahmatullah pada fajar hari selasa 2 Ramadhan 1429 Hijrah bersamaan 2 September 2008 Masihi di rumahnya di Beirut pada usia 105 tahun, disembahyangkan oleh jutaan umat Islam di Masjid Burj Abi Haidar Beirut dan di makamkan berdekatannya.

Beliau adalah ulama yang hebat dan dikenali dengan gelaran Al-Muhaddith (ulama pakar Hadith, Syeikhul Islam dan sebagainya dari gelaran yang mulia. Rahimakallahu Ya Syeikh Abdullah Al-Harari.



Donate to Aswaja.net



CO.CC:Free Domain

Selengkapnya...

SYEIKH ABDULLAH AL-HARARI AL-HABASYISocialTwist Tell-a-Friend

Hukum Menurut Islam

Diposkan oleh Admin On 11:16 PM 0 komentar

Image and video hosting by TinyPic






Hukum itu berarti menetepkan suatu pekerjaan dan meniadakan suatu pekerjaan.
Hukum terbagi atas tiga bagian, yaitu :

1. Hukum Syara'
2. Hukum Adat
3. Hukum Akal

A. Apakah HUKUM SYARA' itu ?

Hukum syara' Hukum yang datangnya atas perintah Allah Ta'ala (misalanya shalat lima waktu, puasa ramadhan, menuntut ilmu agama, dan lain-lainnya. Hukum syara' juga terbagi kembali, yaitu: Haram, Sunat, Makruh, Mubah, Sah, Batal.

Haram : adalah suatu pekerjaan yang apabila dikerjakan mendapatkan siksa, dan apabila ditinggalkan (mampu menahan hawa nafsu) mendapat pahala.

Sunnat : adalah suatu pekerjaan yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala, dan apabila ditinggalkan maka tidak mendapat pahala.

Makruh : adalah suatu pekerjaan yang apabila dikerjakan tidak berdosa, dan apabila ditinggalkan maka mendapat pahala.

Mubah (Jaiz) : adalah suatu pekerjaan yang apabila dikerjakan tidak berdosa, dan apabila ditinggalkan maka tidak mendapat pahala. Terkadang yang mubah itu bisa menjadi sunnat (umpamanya ketika makan diniatkan aga kuat beribadah kepada Allah SWT.

Sah : adalah suatu pekerjaan yang cukup pada rukun dan syaratnya.

Batal : adalah suatu pekerjaan yang kurang pada rukun dan syaratnya.


B. Apakah HUKUM ADAT itu ?

Hukum adat itu artinya menetapkan sesuatu yang telah dikenal oleh orang banyak dan telah menjadi kebiasaan mereka, baik perkataan maupun perbuatan, ataupun perbuatan yang mereka tinggalkan. Lalu ada berapakah hukum adat itu ?


Adapun hukum adat itu terbagi atas dua bagian :

1. Hukum Adat yang shahih
2. Hukum Adat yang fasid

Hukum Adat yang shahih adalah sesuatu yang saling dikenal oleh manusia, dan tidak bertentangan dengan dalil syara', tidak menghalalkan sesuatu yang diharamkan, dan tidak pula membatalkan sesuatu yang wajib. Misalnya kebiasaan memberikan perhiasan dan pakaian oleh peminang kepada wanita yang dipinangnya adalah hadiah, bukan bagian dari maskawin. Adapun hukum adat yang fasid adalah sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan manusia, akan tetapi kebiasaan itu bertentangan dengan syara', atau menghalalkan sesuatu yang diharamkan, atau membatalkan sesuatu yang wajib. Misalnya pada adat kebiasaan manusia terhadap berbagai kemungkaran ( mabuk-mabukan, judi, dll) dalam berbagai acara seperti dalam pernikahan, sedekah bumi, sedekah laut dan sebagainya.

B. Apakah HUKUM AKAL itu ?

Hukum akal yaitu menetapkan sesuatu atau meniadakannya menurut akal sehat. Sedangkan akal yang sempurna (sehat) yaitu nur (cahaya) yang dimasukkan kedalam hati seorang mukimin. Dengan cahaya itulah ia dapat mengetahui suatu ilmu yang tidak membutuhkan dalil nadhari ( ilmu yang dapat diterangkan) . Hukum akal terbagi atas tiga bagian, yaitu : wajib, mustahil, jaiz yang penjelasannya adalah sebagia berikut :

Wajib menurut akal : sesuatu yang tidak dapat diterima oleh akal atas ketiadaanya.
Misalnya - adanya sebuah rumah, tentu ada tukang yang membuat rumah itu.

Mustahil menurut akal : sesuatu yang tidak dapat diterima oleh akal keberadaannya.
Misalnya - Mungkinkah manusia itu ada dengan sendirinya ? (mustahil bagi akal)

Jaiz menurut akal : sesuatu yang dapat diterima oleh akal, akan ada dan tiadanya.
Misalnya Allah Ta'ala menciptakan alam semesta ini ataupun tidak menciptakannya, terserah
Allah SWT saja.


Keterangan :

Dari uraian diatas, maka kita ketahui arti wajib syara' dan wajib akal, maka keduanya itu memiliki arti yang berbeda.

1. Apabila dikatakan wajib atas setiap mukallaf (akil baligh) , maka yang dimaksud adalah wajib syara'

2. Dan apabila dikatakan wajib bagi Allah, maka yang dimaksud adalah wajib akal, bukan wajib syara'.

3. Demikian juga jika dikatakan jaiz bagi mukallaf, maka yang dimaksud adalah jaiz syara'

4. Dan apabila dikatakan jaiz bagi Allah Ta'ala, maka yang dimaksud adalah jaiz Aqli (harus menurut akal).

Hukum akal ini juga sering disebut dalam majelis-majelis, bahkan telah akrab dengan kita semenjak kita kecil yang lebih kita kenal dengan "Sifat 20 atas Allah". (Allah wujud - Qidam - Baqa', dst). Insya Allah akan dibahas disini demi kemantapan tauhid kita kepada Allah SWT. Amiin....
Selengkapnya...

Hukum Menurut IslamSocialTwist Tell-a-Friend

Foto "GUEST"

Diposkan oleh Admin On 2:27 PM 0 komentar

Selengkapnya...

Foto "GUEST"SocialTwist Tell-a-Friend

UNDANGAN ACARA

Diposkan oleh Admin On 11:15 PM 1 komentar


Berikut ini adalah Info acara-acara yang akan berlangsung, yang diadakan oleh majlis ta'lim diluar sana yang berhasil dihimpun. Mungkin saja acara ini berlangsung dan ada wilayah anda.

Seiring dengan semakin berkembangnya syiar dakwah khususnya di Indonesia. Oleh karena itu, saya berupaya ikut andil dalam penyebarluasan dakwah dengan dihimpun dalam kesatuan di blog ini. saya ucapkan jazakumullah khair kepada Anda yang berkenan mengunjungi blog saya yang sederhana ini, dan saya mengharapkan dan mempersilahkan kepada sobat majelis yang ingin memberikan informasi tentang acara-acara kegiatan mejlis taklim yang akan berlangsung di wilayah sobat majelis. Semoga dengan adanya informasi tentang Undangan ini, akan semakin banyak yang akan menghadiri acara tersebut, dan akan semakin luas juga syiar Islam di Indonesia.

Terima kasih atas patisipasinya, dan juga kami harapkan dari pengunjung berupa kritik dan saran yang sifatnya membangun.

Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada teladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, para sahabat dan seluruh pengikut mereka yang setia. Segala puji bagi Allah Ta’ala Rabb seru sekalian alam.

Wassalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh.
Selengkapnya...

UNDANGAN ACARASocialTwist Tell-a-Friend
Diposkan oleh Admin On 10:32 PM 1 komentar

Untuk para pendengar radio RAS FM................

Untuk para pendengar radio RAS FM, yaitu salah satu stasiun radio Islami yang ada di kawasan Tebet Jakarta Selatan, ini merupakan kabar gembira.

Karena kini radio tersebut membuat salah satu gebrakan dengan niat ingin merangkul para pendengarnya yang ada di berbagai daerah cara menyatukan komunikasi mereka kedalam komunitas pendengar radio RAS FM Online dengan nama "sahabatras@yahoogroups.com".

Radio tersebut juga mengubah tampilan situsnya, dengan tampilan yang semakin menarik perhatian, dan membuat pengunjung merasa nyaman, namun tetap informatif.

Sahabat RAS adalah Forum yang ditujukan untuk menjalin silaturrahim dan berbagi manfaat antar pendengar dalam rangka memperkokoh kesatuan dan persaudaraan umat Islam. Sahabat RAS mencakup Pendengar 95.5 RASfm - Radio Alaikassalam Jakarta, pendengar AM 792 Radio As Syafiiyah Jakarta dan Pendengar 89.5 SPAfm - Radio Suara Pulo Air Sukabumi dan juga komunitas yang terbentuk karena adanya aktifitas ON AIR dan OFF AIR Radio.


"SAHABAT RAS" merupakan singkatan dari SAHABAT RASfm - AS SYAFIIYAH - SPAfm. Untuk informasi lanjut, sobat majelis silahkan KLIK DISINI untuk berkunjung ke situs resmi Ras FM.


Basecamp SAHABAT RAS
GRAHA ARRASYIDIYAH
Jl. KH. Abdullah Syafi'ie No. 21A, Tebet
Jakarta Selatan 12840 - Indonesia
Phone. +6221 8319219, 8292103, 8292433, Fax. +(62-21) 831 9214
Info YM : awanalbana
Selengkapnya...

SocialTwist Tell-a-Friend

Islam Dalam Dokumentasi